Pengalaman Karantina Rumah di Polandia [COVID-19]

Bisa dibilang akhir September kemarin adalah masa sedih dan kelam bagiku. Betapa tidak, aku tak menyangka akan mendapat informasi dari pihak asrama kampus bahwa aku, teman kamarku dan beberapa orang di lantai kami tinggal akan melaksanakan karantina mandiri. Aku sendiri lebih ke arah bingung, kenapa aku harus menjalani karantina. Aku tidak merasa kontak dengan siapapun yang terkena positif corona.

Ternyata teman kamarku lah yang pernah kontak dengan dia. Singkat cerita ada seorang pria yang terkena virus corona setelah pulang dari perjalanannnya di luar kota. Teman kamarku ini meminta bubuk kakao ke pria ini kira-kira beberapa hari sebelum ia tes Covid-19. Beberapa hari kemudian itu pria ini merasa tak bisa merasakan makanan seperti biasanya dan ia akhirnya melakukan tes dan didapati positif. Pria ini pada dasarnya memiliki mild symptoms. Setelah informasi itu sampai ke pihak asrama kampus, mungkin ia mendata siapa saja yang pernah kontak dengannya selama beberapa hari belakang. Karena aku tinggal dengan orang yang pernah kontak dengan orang positif corona maka aku juga ikutan dikarantina. Sedangkan pria ini besoknya, tanggal 30 September ia dibawa ambulans ke hotel khusus orang yang positif corona selama 14 hari.

Sedikit menyebalkan karena tidak jelasnya regulasi kapan karantina, dan bagaimana cara melakukan karantina mandiri/rumah/kosan ini. Kami harus menunggu informasi selanjutnya dari pihak kampus dan SANEPID alias Powiatowa Stacja Sanitarno – Epidemiologiczna. Oddziały Krakow/ State Poviat Sanitary Inspection Krakow. Pada email yang tertera hanyalah kami harus karantina, namun tidak jelas keterangan mulai tanggal berapa sampai tanggal berapa ini berlangsung.

Setelah dijalani, ternyata selama karantina kami tak boleh menggunakan dapur umum sehingga semua persoalan masak-memasak harus dilakukan didalam kamar. Untungnya aku punya microwave dan rice cooker sehingga hal tersebut masih bisa kami lakukan. Untuk berbelanja sembako atau pesan makanan delivery dari restoran kita bisa minta bantuan ke orang yang tidak karantina untuk membelikan dan menaruhnya didepan pintu kamar. Untuk persoalan sampah, kita bisa membuangnya didepan pintu kamar dan cleaning service akan membuangnya setiap pagi. Untuk beberapa kota ada yang menanggung makanan setiap harinya, namun hal ini tidak berlaku pada kami. Kami tidak ditanggung sama sekali oleh siapapun sehingga untuk makanan harus mengusahakan sendiri.

Informasi sampai kapan karantina tidak begitu jelas, sampai aku menemukan sendiri ada yang namanya aplikasi kwarantanna domowa (home quarantine) buatan pemerintah Polandia. Akupun iseng menginstallnya pada tanggal 3 Oktober siang dan mendaftar menggunakan nomor HP Polandia yang aktif. Dan ternyata disana terdapat informasi tentang sampai kapan aku dikarantina. Ternyata karantina hanya berlangsung selama 6 hari, mulai 30 September hingga 5 Oktober, tidak 14 hari seperti yang dipikirkan. Lalu surat resmi soal karantina dari pemerintah juga datang terlambat yakni pada tanggal 3 Oktober malam. Itupun hanya diberikan pada orang yang memang resmi dikarantina karena kontak langsung dengan penderita corona. Aku tidak mendapat surat karena dikarantina karena tinggal dengan orang yang kontak langsung dengan penderita corona. Namun surat itu menyatakan bahwas surat ini berlaku kepada penerima surat dan siapapun yang tinggal dengan dia.

Lalu pada tanggal 4 Oktober polisi datang untuk memastikan apakah kita semua yang dikarantina benar-benar melaksanakan karantina mandiri. Namun karena aturan asrama yang tidak membolehkan siapapun selain penghuni masuk, polisi tersebut memantau dari luar gedung namun ditempat dimana ia bisa melihat kami didalam kamar. Pada saat itu kami harus melambaikan tangan ke polisi.

Bagaimana kabar si positif ini? Setelah 14 hari berada di hotel karantina kondisinya semakin membaik dan sehat. Pria ini melakukan tes lagi dan hasilnya negatif dan bisa kembali ke kosannya. Dan akhirnya pada tanggal 5 Oktober malam kami mendapatkan SMS dari Kwarantanna bahwa waktu karantina mandiri sudah berakhir 🙂

Tips aku untuk WNI khususnya yang tinggal di Polandia adalah tetap jaga jarak, pakai masker dimanapun berada termasuk dapur umum, lorong asrama sesuai dengan aturan yang diberikan oleh pihak asrama. Selain itu juga patuhi aturan yang diberikan pemerintah. Saat ini kasus positif corona semakin meningkat karena adanya demo. Selain itu install juga aplikasi stop COVID untuk mendapatkan informasi dan monitoring diri seputar virus corona.

Post Author: Altifani R. Hayyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *