Rasanya Berhijab di Eropa

Sumber: i.pinimg.com

Menjadi muslimah yang tinggal di negara minoritas Muslim memang tak mudah. Begitulah yang aku rasakan. Di kampung halaman, sepanjang jalan hampir semua orang muslim mengenakan hijab, kecuali pria wkwk. Tapi, disini, di Polandia, hampir semua orang tidak mengenakannya. Tak pelak aku menjadi ‘unik’ saat dipandang. Waktu bulan pertama tinggal di Eropa, setiap berjalan aku melihat tatapan aneh dimata mereka. Mungkin mereka berpikir, ‘Siapa orang ini? Darimana asalnya?’ tapi tak ada ucapan terlontarkan. Apalagi waktu di bandara, tatapan mata aneh sangat kentara sampai-sampai aku was-was, akankah tatapan menakutkan tersebut akan terus hadir nanti?

Sampai beberapa bulan aku sedikit takut ketika keluar dorm sendirian, karena melihat tabiat warga sini yang kelihatannya aneh saat meihatku. Namun lama kelamaan aku berpikir, buat apa takut, toh aku tidak melakukan sesuatu yang buruk. Dan kebanyakan anak muda disini lebih toleran kepada warga asing daripada orang tua. Saat ini aku harus berani menegakkan kepala. Aku sudah mulai berani jalan sendirian walaupun sesekali. Walaupun teman Muslim dari negara lain mengabarkan bahwa kemarin ada kasus wanita berhijab diperlakukan tak baik di ibukota, namun aku harus tetap berjalan dan berdoa semoga aku baik-baik saja. Selama ini alhamdulillah aku baik-baik saja.

Saat teman kamarku baru tiba di Polandia, aku berkenalan dengan mereka. Mereka juga menanyakan mengapa aku mengenakan kain panjang menutup dada dan rambut? Buat apa? Seyogyanya aku menjawab bahwa aku adalah seorang Muslimah, yang hanya ingin mematuhi perintah Allah SWT. Berhijab itu wajib bagi setiap muslimah, karena rambut dan dada wanita adalah aurat. Mereka juga mengamati bagaimana aku beribadah 5 kali sehari, buat mereka hal tersebut unik. Maklum, di negara mereka hampir tak ada orang sepertiku. Salah seorang teman kamarku sampai menanyakan bagaimana seragam siswa sekolah menengah di Indonesia. Langsung aku melihat aplikasi pencari foto dan menemukan foto siswa SMA Indonesia. Ia menunjuk pada salah satu foto dan bertanya, ‘Mengapa gadis ini tak menutup kepalanya?’ lalu aku menjawab, memang hijab itu wajib bagi perempuan muslim, namun ada yang tidak mengenakannya karena mungkin mereka belum mau ataupun satu dan lain hal. Mungkin saja yang difoto itu beragama non muslim, kataku. Tapi di Indonesia sebagian besar gadis muslim mengenakan chusta (bahasa Polandia untuk hijab), sepertiku.

Saat dikelas bahasa Polish, guru menanyakan, ‘Apa tidak capai berdoa selama 5 kali sehari? Agama kami saja hanya butuh satu menit dua puluh detik untuk berdoa, dua kali berdoa dalam sehari’. Tidak, kami tidak capai, karena rentang waktu untuk berdoanya (red: shalat) cukup panjang dan walaupun memakan waktu 5-15 menit setiap shalat, karena sudah terbiasa, maka semua terasa mudah. Begitupula kami, orang Indonesia pasti adalah orang yang bangun paling pagi di dorm karena kami harus menunaikan shalat subuh setiap harinya. Hal ini kami laksanakan sebagai rasa syukur atas karunia yang Allah Swt berikan.

Selama tinggal di Eropa, memang budaya disini ada yang sesuai, namun ada juga yang bertabrakan dengan nilai-nilai Islam. Sebagai muslimah yang baik, menyaring mana yang sesuai dan mana yang tidak sangat penting untuk dilakukan. Bahkan, materi tentang pergi ke klub malam ada di kurikulum pelajaranku, wkwk. Tapi, tak mengapa. Setidaknya aku belajar bahwa ternyata seperti ini wajah luar negeri, unik buatku, namun biasa bagi mereka. Sama seperti mereka melihatku, unik, tanpa sehelai rambutpun yang terlihat dikepalaku. Melihat dunia lebih luas, melihat betapa berwarnanya dunia ini, membuatku ingin mengambil pelajaran darinya.

Post Author: Altifani R. Hayyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *