Static Parenting


Saat ini sedang tren peminta-minta yang lain dari yang dulu-dulu. Mereka mengenakan kostum yang menarik perhatian siapapun yang datang melintas. Di jalan protokoler kota Bogor, di tempat wisata sekitar Monas, maupun tempat kekinian di Bandung, aku seringkali bertemu mereka yang sedang mencari sesuap nasi. Menurutku itu lebih baik, maksudnya lebih kreatif, sehingga tak hanya sekadar meminta-minta, melainkan juga menghibur siapapun disekitarnya. 
Aku teringat akan kisah ini, kisah pemuda, sebutlah saja namanya Batu. Si Batu ini iseng-iseng mendatangi pengemis tua yang bekerja tak jauh didekatnya. Batu bertanya sudah lama mengemis dan dapat berapa dari hasil mengemis. Pengemis tersebut menjawab anaknya 4 dan hasil nya cukup untuk menghidupi 4 anaknya. “Anak saya ada 5, yang paling besar ada di UI Depok, yang kedua di ITB, yang ketiga di UNJ, yang keempat di UI Salemba, dan yang paling kecil di IPB.” Si Batu kagum dan bertanya “Hebat Pak, semuanya sekolah di universitas negeri!” Sontak pengemis tersebut kaget dan menjawab: “Bukan dik, semuanya mengemis disana!” 
Pepatah “Anak tidak jatuh jauh dari pohonnya” menurutku kurang tepat, karena menimbulkan kesan bahwa pencapaian seorang anak hanyalah sebatas sama dengan pencapaian orang tuanya. Mari, kita sebagai calon ataupun sudah jadi orang tua, didiklah anak-anak kita agar memiliki masa depan yang lebih baik dari kita, dengan tidak mengamalkan static parenting yang merupakan tindakan dimana mendidik anak agar bernasib sama dengan orang tuanya. 
Every character should be taught to expect success – Orison S. Marden
Pernah dibawakan @TifaniHayyu di sesi prepared speech. 
#30DWC #day1

Post Author: Altifani R. Hayyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *