Pujian Itu Memabukkan, Kok Bisa?

[Pujian Itu Memabukkan, Kok Bisa?] @TifaniHayyu
Seringkali kita kagum kepada pencapaian teman atau saudara kita, maka berbagai pujian dilontarkan. Sesungguhnya pujian itu lebih memabukkan dari khamr. Mengapa? Mari kita telisik lebih dalam.

Memuji orang lain memang lumrah dilakukan masyarakat kita. Hal ini bisa dikarenakan beberapa faktor, diantaranya kekaguman kita atas prestasi orang lain, maupun ketampanan atau kecantikan mereka. Memuji itu sah-sah saja, asal tidak melanggar syariat Islam. Karena jika kita berlebihan memuji manusia, maka berdampak pada lunturnya keimanan kita. Nauzubillahi min dzalik! Hal ini dapat terlihat dari semakin meningkatnya pujian, maka semakin tinggi potensi kesombongan. Seperti yang dikatakan dalam hadits ini:
“Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli.” (HR. Ad-Dailami).

Tahukah kawan, bahwa manusia itu tempatnya kekurangan. Yang maha sempurna hanyalah Allah SWT. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah kita memuji manusia tidak melebihi dari memuji Allah SWT.

Oleh karena itu, kita harus menggunakan pujian kepada manusia dengan kalimat yang menyertakan Allah SWT. Contohnya ialah: ‘Masya Allah, baju buatan kamu cantik sekali, pantas menang banyak penghargaan’. Arti dari Masya Allah sendiri ialah Allah telah berkehendak akan hal itu. Hal ini mampu memberikan informasi baik kepada yang memuji dan yang dipuji, bahwa prestasi ataupun keelokan mereka datangnya dari Allah SWT, yang maha memiliki kebaikan.

Follow akun Tausiyah Islam harian @HandsockJersey

@pejuang30dwc #30DWC7 #30DWC #pujian #khamr #prestasi #tulisan #opini #dakwah #menulis #reminder #renungan #tifanihayyu #handsockjempol #handsock #handsocks #day14

Post Author: Altifani R. Hayyu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *